Petunjuk: Kerjakan setiap soal secara sistematis. Tunjukkan seluruh perhitungan, jurnal, dan dasar analisis yang digunakan.

SOAL 1. Akuisisi Bertahap dan Goodwill
PT Garuda membeli 20% saham PT Merpati pada 1 Januari 2025 dengan harga Rp4.000 juta. Investasi tersebut sebelumnya diklasifikasikan sebagai investasi pada nilai wajar melalui laba rugi.
Pada 1 Januari 2026, PT Garuda membeli tambahan 55% saham PT Merpati dengan harga Rp15.000 juta sehingga kepemilikan menjadi 75%. Pada tanggal akuisisi, nilai wajar investasi 20% yang telah dimiliki adalah Rp5.500 juta.
Data PT Merpati pada tanggal akuisisi: nilai buku aset neto Rp17.000 juta; nilai wajar aset neto Rp20.000 juta; nilai wajar liabilitas Rp6.000 juta; nilai wajar NCI 25% Rp5.200 juta.
Diminta: (a) tentukan apakah PT Garuda memperoleh pengendalian; (b) hitung nilai wajar imbalan yang dialihkan; (c) hitung goodwill atau keuntungan pembelian dengan diskon; (d) tentukan nilai NCI; (e) jelaskan perlakuan investasi 20% sebelumnya; (f) buat jurnal tanggal akuisisi.
SOAL 2. Konsolidasi dengan Penyesuaian Nilai Wajar
PT Alpha mengakuisisi 80% saham PT Beta dengan harga Rp24.000 juta pada 1 Januari 2026.
Pada tanggal akuisisi, PT Beta memiliki: kas Rp3.000 juta (nilai wajar Rp3.000 juta); piutang Rp5.000 juta (Rp4.800 juta); persediaan Rp6.000 juta (Rp7.500 juta); tanah Rp8.000 juta (Rp12.000 juta); bangunan Rp10.000 juta (Rp11.500 juta); liabilitas Rp9.000 juta (Rp9.500 juta).
Tanah tidak disusutkan. Bangunan memiliki sisa umur manfaat 10 tahun. PT Alpha menggunakan metode full goodwill dan nilai wajar NCI adalah Rp5.800 juta.
Diminta: (a) hitung nilai wajar aset neto teridentifikasi; (b) hitung goodwill; (c) hitung penyesuaian penyusutan bangunan; (d) tentukan dampaknya terhadap laba konsolidasian 2026; (e) buat eliminasi investasi terhadap ekuitas PT Beta.
SOAL 3. Akuisisi dengan Kontinjensi Imbalan
PT Nusantara mengakuisisi 70% saham PT Sejahtera pada 1 Januari 2026 dengan pembayaran: kas Rp18.000 juta, saham PT Nusantara yang diterbitkan Rp7.000 juta, dan contingent consideration Rp4.000 juta.
Contingent consideration dibayar apabila EBITDA PT Sejahtera tahun 2026 melebihi Rp12.000 juta. Nilai wajarnya pada tanggal akuisisi Rp3.200 juta dan pada akhir 2026 meningkat menjadi Rp4.500 juta.
Nilai wajar aset neto teridentifikasi PT Sejahtera pada tanggal akuisisi Rp29.000 juta. Nilai wajar NCI Rp11.500 juta.
Diminta: (a) hitung imbalan yang dialihkan; (b) hitung goodwill; (c) tentukan perlakuan perubahan nilai wajar contingent consideration; (d) jelaskan pengaruhnya terhadap laba rugi konsolidasian; (e) buat jurnal tanggal akuisisi dan akhir periode.
SOAL 4. Transaksi Antarperusahaan dan Laba Belum Direalisasi
PT Induk memiliki 80% saham PT Anak. Selama 2026, PT Induk menjual persediaan kepada PT Anak seharga Rp10.000 juta, sedangkan harga pokoknya Rp7.000 juta.
Pada akhir tahun, 40% persediaan tersebut masih dimiliki PT Anak. PT Anak kemudian menjual 50% dari persediaan yang tersisa kepada pihak eksternal.
PT Anak menjual aset tetap kepada PT Induk seharga Rp6.000 juta. Nilai buku aset Rp4.500 juta dan sisa umur manfaatnya 5 tahun.
Laba bersih PT Induk sebelum eliminasi Rp15.000 juta dan PT Anak Rp8.000 juta.
Diminta: (a) hitung laba belum direalisasi persediaan; (b) tentukan eliminasi; (c) hitung penyesuaian depresiasi; (d) hitung laba konsolidasian; (e) tentukan bagian laba NCI.
SOAL 5. Akuisisi Terbalik (Reverse Acquisition)
PT Bintang adalah perusahaan privat dengan aset neto Rp50.000 juta. PT Cakrawala adalah perusahaan publik dengan aset neto Rp30.000 juta.
Dalam merger, pemegang saham PT Bintang memperoleh 80% saham PT Cakrawala, sedangkan pemegang saham lama PT Cakrawala memperoleh 20%. Nilai wajar PT Bintang Rp80.000 juta dan PT Cakrawala Rp60.000 juta.
PT Cakrawala secara hukum menjadi perusahaan induk, tetapi PT Bintang menjadi entitas yang secara akuntansi memperoleh pengendalian.
Diminta: (a) tentukan accounting acquirer dan legal acquirer; (b) jelaskan reverse acquisition; (c) tentukan dasar pengukuran aset dan liabilitas; (d) hitung kepentingan pemegang saham nonpengendali; (e) jelaskan penyusunan laporan keuangan konsolidasian.
SOAL 6. Akuisisi Anak dengan Transaksi Antarperusahaan Sebelum dan Sesudah Akuisisi
PT Prima membeli 75% saham PT Sentosa pada 1 April 2026 dengan harga Rp30.000 juta.
Pada tanggal akuisisi, PT Sentosa memiliki modal saham Rp20.000 juta, saldo laba Rp8.000 juta, dan cadangan lain Rp2.000 juta. Nilai wajar aset neto teridentifikasi Rp35.000 juta dan nilai wajar NCI Rp9.000 juta.
Selama 2026, PT Sentosa memperoleh laba Rp12.000 juta, dengan Rp4.000 juta diperoleh sebelum akuisisi dan Rp8.000 juta setelah akuisisi.
PT Prima menjual barang kepada PT Sentosa dengan laba Rp3.000 juta. Sebesar Rp1.200 juta dari laba tersebut masih terdapat dalam persediaan PT Sentosa pada akhir tahun.
Diminta: (a) hitung goodwill; (b) hitung pre-acquisition dan post-acquisition income; (c) tentukan bagian laba PT Prima dan NCI; (d) hitung laba belum direalisasi; (e) tentukan dampaknya terhadap laba konsolidasian; (f) susun jurnal eliminasi utama.
SOAL 7. Perubahan Kepemilikan Tanpa Kehilangan Pengendalian
PT Mandiri memiliki 80% saham PT Karya. Pada awal 2026, nilai tercatat NCI adalah Rp6.000 juta.
PT Mandiri membeli tambahan 10% saham PT Karya dari pemegang saham nonpengendali seharga Rp3.500 juta sehingga kepemilikan menjadi 90%. Nilai tercatat aset neto PT Karya saat transaksi Rp60.000 juta.
Pada akhir tahun, PT Mandiri menjual 15% saham PT Karya seharga Rp7.000 juta sehingga kepemilikan turun menjadi 75%, tetapi pengendalian tetap dipertahankan.
Diminta: (a) tentukan apakah pembelian 10% menghasilkan goodwill baru; (b) hitung dampaknya terhadap ekuitas pemilik induk; (c) hitung perubahan NCI; (d) hitung dampak penjualan 15% terhadap NCI; (e) tentukan keuntungan/kerugian yang diakui; (f) jelaskan perbedaan perlakuan ketika pengendalian tidak hilang dan hilang.
SOAL 8. Pelepasan Anak Perusahaan dan Kehilangan Pengendalian
PT Sentral memiliki 85% saham PT Distribusi. Pada 1 Januari 2026, nilai tercatat investasi dalam laporan konsolidasian Rp40.000 juta.
Pada 30 September 2026, PT Sentral menjual 60% saham PT Distribusi seharga Rp35.000 juta sehingga kepemilikannya turun menjadi 25%. Pada tanggal kehilangan pengendalian, nilai wajar kepemilikan tersisa 25% Rp12.000 juta, nilai tercatat aset neto PT Distribusi Rp42.000 juta, NCI Rp7.000 juta, dan goodwill Rp5.000 juta.
Sampai tanggal pelepasan, PT Distribusi memperoleh laba Rp9.000 juta. PT Sentral sebelumnya telah mengakui bagian laba sesuai kepemilikannya.
Diminta: (a) tentukan tanggal kehilangan pengendalian; (b) jelaskan perlakuan aset, liabilitas, goodwill, dan NCI; (c) hitung keuntungan/kerugian pelepasan; (d) tentukan pengukuran kepemilikan 25% setelah kehilangan pengendalian; (e) jelaskan dampak pada laporan laba rugi dan posisi keuangan konsolidasian; (f) buat jurnal pelepasan secara lengkap.